Music Snob, Perusak Esensi dari Musik!



Hai semua, kembali lagi di postingan tentang musik yang kesekian kalinya. Kali ini, saya tidak akan membahas fakta lagu apapun seperti yang aku posting biasanya, melainkan akan membahas sebuah istilah yang kalian sendiri sering lihat baik ketika berbincang bersama teman maupun berdiskusi online. Music Snob.

Sebelum masuk ke inti pembahasan. Aku ada beberapa pertanyaan yang sekiranya akan mendefinisikan bahwa kamu adalah Music Snob atau bukan.

  1. Menurut kalian, musik itu apa?
  2. Bagaimana standar musik seharusnya?
  3. Apakah perkembangan musik?

Mainstream sekarang merusak nilai dari musik seperti yang dikatakan mendiang Freddy Mercurry?

Jika jawabanmu sekarang terpaku dengan musik harus bermain instrumen, standar musikmu adalah generasi-generasi tertentu, dan mendiskreditkan perkembangan musik yang ada sekarang. SELAMAT!! Kamu telah menjadi Seorang Music Snob.

Music Snob, julukan negatif yang dilontarkan penikmat musik terhadap seseorang yang dianggap mengeksklusifkan diri dan memandang rendah musik yang dia anggap buruk. Berdasarkan situs Urban Dictionary, Music Snob juga dapat dikatakan sebagai seseorang yang merasa memiliki wawasan musik yang "luas" (tanda kutip lho).

Menurut mereka, setiap lagu dan genre yang tidak mereka sukai akan dianggap musik terburuk . Dan sebaliknya, jika ada lagu dan genre yang mereka sukai, mereka akan memuji-muji seakan musik tersebut adalah musik yang sesungguhnya, masterpiece lah pokoknya. Gak ada yang bisa nyaingin.

Kita ambil contoh, misalkan si A mendengarkan lagu-lagu Metal seperti Metallica ataupun Judas Priest. Sedangkan si B mendengarkan lagu funkot lokal seperti DJ Remix Indo atau Dangdut Koplo ala Via Vallen & Nella Kharisma.

Si A mengolok-olok bahwa selera musik B itu kampungan, sampah, dan menganggap bahwa musik yang dia dengarkan adalah musik yang sesungguhnya. Pokoknya musik itu harus kayak Metal, gak boleh menye-menye macam lagunya Armada atau lagu-lagu KPOP.

Dari contoh diatas, bisa kalian simpulkan bahwa si A ini adalah Music Snob. Dimana seharusnya musik tidak memiliki batasan dan standar tertentu. Namun si A membuat standar sendiri dan orang-orang disekitarnya harus setuju dengan standar yang dia pakai.

Padahal itu adalah kesalahan fatal. Musik sejatinya adalah karya yang bertujuan untuk menghibur pendengarnya, bukan untuk media pembanding apalagi jika sampai dibuat standardisasi semu bahwa musik itu harus begini, harus begitu, harus berinstrumen, lagu jedak-jeduk itu bukan musik.
Sadarilah bahwa setiap genre memiliki keunikan sendiri. Metal dengan ketukan drum upbeat dan distrosi gitar yang tebal, pun musik Pop yang easy listening dan gak perlu takut dimarahi tetangga jika diputar dengan volume maksimal.

Tidak hanya genre, budaya musik di setiap daerah maupun negara juga mempengaruhi sebagian besar musik yang dirilis di negara tersebut. Dan jangan lupakan, selera setiap orang juga berbeda-beda.

Daripada kamu buang-buang waktu berdebat soal selera musik, lebih baik kamu bergumul dengan orang-orang yang satu komunitas denganmu, saling tukar pikiran, bedah makna, tujuan, dan isi lirik dalam sebuah lagu. Niscaya wawasan musikmu akan jauh lebih berkembang ketimbang teriak Musik Pop itu cengeng atau KPOP itu norak bin alay.

“Mendengarkan lagu KPOP tidak membuat maskulinitasmu hilang, pun mendengarkan seluruh Symphony Beethoven bukan berarti kamu sudah punya wawasan musik yang luas.”

Artikel ini ditulis oleh Gilanx.my.id